Abdullah Al-Jirani Official adalah channel dakwah yang mengulas berbagai masalah keagamaan, nasihat islami, dan vlog yang bermanfaat. Semoga kehadirannya bisa bermanfaat dan menambah khazanah keilmuan bagi umat Islam.
Dengan adanya sanad (transmisi) keilmuan, maka agama kita terjaga dari berbagai pemahaman sesat atau penyimpangan. Mata rantai para guru yang bersambung kepada para imam-imam mujtahidin (ahli ijtihad), lalu kepada para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, lalu kepada para sahabat, hingga berujung kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan sanad, orang tidak akan bisa berbicara seenaknya. Hal-hal yang bukan bagian dari agama, atau yang bersumber dari pemahaman sendiri, akan mudah terdeteksi.
“Sanad (transmisi ilmu) itu bagian dari agama. Maka kalau bukan karena sanad, sungguh setiap orang akan berbicara apa yang dia inginkan.” (Muqaddimah Shahih Muslim)
Jangan sembarang mengambil ilmu agama. Teliti dulu sanad keilmuannya, apakah bersambung keilmuannya sampai para ulama Ahli Sunah hingga mengerucut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak ? Sebab, taruhannya adalah agama kita. Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata ;
“Ilmu ini adalah agama. Maka, telitilah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”(Muqaddimah Shahih Muslim)
Bertanya tentang sanad, bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk gagah-gagahan. Tapi semata untuk langkah preventif dan ketenangan kita dalam beragama. Apalagi di masa-masa sekarang ini yang begitu merebak berbagai pemahaman menyimpang dan orang-orang yang mengklaim (secara dusta) sebagai pengikut Salaf.
Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah juga menyatakan ;
“Sebelumnya, mereka tidak bertanya tentang sanad. Tapi tatkala terjadi fitnah, mereka berkata ; “Sebutlah para rawi (sanad) kalian kepada kami ! Maka telitilah, jika dia Ahlus Sunah ambilah hadisnya. Jika dia Ahli bidah, jangan diambil hadisnya.” (Muqaddimah Shahih Muslim)
Alhamdulillah, kita konsisten untuk terus menghidupkan sunah para ulama dengan menjaga tradisi sanad keilmuan yang bersambung kepada para ulama Nusantara, lalu kepada para imam-imam ahli ijtihad, lalu kepada para sahabat dan bermuara kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
27 Juni 2026 Ujung pulau Jawa Tengah di perbatasan Jawa Timur
Doktor Sholihul Huda, Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim, menghadirkan buku terbarunya yang berjudul “Darurat Salafisme di Muhammadiyah” pada momentum yang sangat krusial dalam dinamika gerakan Islam kontemporer di Indonesia.
Penulis menyajikan buku ini sebagai suara kritis yang berupaya menjaga kemurnian identitas ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan.
Kehadiran karya ini mendahului kekhawatiran publik mengenai kuatnya arus puritanisme serta penetrasi ideologi transnasional ke dalam organisasi Islam moderat.
Organisasi ini secara konsisten menunjukkan komitmen tinggi terhadap kemajuan sosial dan intelektual umat.
Namun, penulis menyoroti fenomena beberapa tahun terakhir yang menunjukkan infiltrasi cara berpikir Salafisme ke dalam ruang-ruang dakwah Muhammadiyah.
Pola pikir tersebut cenderung tekstualis, kaku, serta eksklusif sehingga berpotensi mengikis karakter dasar Muhammadiyah.
Kegelisahan terhadap pergeseran paradigma inilah yang menjadi fondasi utama bagi penulis untuk menyusun seluruh isi buku ini.
Sholihul Huda tidak sedang memprovokasi pembaca untuk membenci kelompok tertentu melalui tulisan ini.
Sebaliknya, ia mendorong warga Persyarikatan agar lebih menyadari adanya pergeseran cara pandang keagamaan yang perlahan dapat merusak karakter moderat Muhammadiyah.
Oleh karena itu, kader Muhammadiyah, aktivis dakwah, hingga akademisi perlu menjadikan buku ini sebagai rujukan literasi yang sangat penting.
Di antara faksi-faksi Salafi (atau Wahabi) di tempat saya (dan besar kemungkinan di tempat lain juga demikian), mereka kalau ketemu tidak saling tegur sapa dan tidak saling mengucapkan salam. Masing-masing saling mentahdzir (menyesatkan), merasa paling benar dan mengklaim sebagai Salafi yang paling murni sedunia. Sementara yang lainnya, divonis sebagai Salafi KW (hanya ngaku-ngaku Salafi). “Terhadap ahli bidah harus bersikap keras”, kata mereka. Yang dimaksud “ahli bidah” di situ adalah Salafi yang dianggap KW.
Padahal, jargon-jargonnya sama, referensi kitab-kitabnya sama, ulama-ulama yang jadi rujukan juga sama. Kok bisa terjadi seperti ini ? Apa masalahnya ? Pasti ada yang salah. Ini menjadi PR bagi mereka untuk mencari titik masalahnya, lalu segera melakukan pembenahan. Sebenarnya kalau sekedar berbeda pendapat dalam masalah furu’iyyah khilafiyyah tapi saling menghormati, nggak jadi masalah. Tapi ini beda, sudah saling menyesatkan ! Sudah jumlahnya sedikit (sekali), kondisinya seperti ini. Tragis.
Sekedar saran ; Fokus ke kelompok sendiri saja dulu. Jangan malah sibuk mengurusi kelompok lain sampai melupakan borok diri sendiri. Sebab, ini merupakan kerusakan yang sangat serius. Jika tidak segera diobati, akan semakin parah dan berdampak buruk tidak hanya kepada kelompok mereka sendiri, tapi juga kepada umat Islam secara umum.
Coba bayangkan, jika di intern mereka saja terjadi seperti ini dan sikap mereka sekeras ini, (hampir) dipastikan terhadap umat Islam yang di luar kelompok mereka tentu akan lebih keras lagi. Mulai dengan tahdzir (menyesatkan), lalu tabdi’ (mengahlibidahkan), dan akhirnya takfir (mengkafirkan). Wallahul musta’an.
Kadang, kita perlu rekreasi untuk mengistirahatkan jiwa. Jangan terlalu serius terus, nanti malah patah. Kata Hujjatul Islam imam Al Gazali rhm : "Jiwa manusia tidak akan selalu betah berada di atas kebenaran(ketaatan) secara terus-menerus jika tidak diistirahatkan. Memaksanya untuk terus-menerus berada dalam kondisi berat, justru akan memicu kejenuhan (futur)."(Ihya' Ulumuddin : 2/239)
Karakter komunitas dakwah dan jamaah pengajian, sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara ustadznya mengajarkan ilmu. Maka ada pepatah : "Guru kencing bediri, murid kencing lari." Kalau ustadznya keras, intoleran, dan suka menyesatkan serta mengakfir-kafurkan umat Islam, hampir dipastikan muridnya lebih ganas lagi
Jika setiap interaksi dengan orang lain yang dianggap memiliki penyimpangan atau bahkan kekafiran selalu otomatis menyebabkan pelakunya sesat atau kafir atau minimalnya dianggap menoleransi kesesatan atau kekafiran, maka apakah ormas Muhammadiyah yang secara resmi menerima kunjungan duta besar Iran (Mohammad Boroujerdi) dengan baik dan ramah, lalu menyepakati untuk melawan segala bentuk kezaliman dan penindasan juga otomatis sesat dan jadi Syi’ah atau kafir ?
Bagi (kebanyakkan) teman-teman Salafi atau Wahabi*, akan menjawab ; “ya”. Ini jika mereka konsisten menerapakan doktrin dan pemahaman mereka yang ghuluw (ekstrim) selama ini. Bagi mereka, mujalasah (duduk-duduk) dan berinteraksi dengan ahli bidah termasuk Syi’ah, sekalipun dalam kebaikan yang disepakati, merupakan bentuk wala’ (loyalitas) kepada Syi’ah dan pembenaran kepada penyimpangannya. Dan ini terlarang keras di dalam manhaj Salaf (versi mereka). Kata mereka, kepada ahli bidah (termasuk Syi’ah), sikapnya harus keras dan tegas tanpa basa-basi secara mutlak. Bahkan sebagian mereka sampai terang-terangan menghakimi Syi’ah bukan Islam (kafir) secara mutlak tanpa ada perincian sedikitpun.
Kita tunggu saja penyesatan atau pengkafiran mereka (Wahabi) secara resmi kepada ormas Muhammadiyah plus semua jajaran pengurus serta anggotanya. Atau setidaknya hujatan, hinaan, serta caci makian mereka, sebagaimana mereka telah melakukan hal ini kepada person dan ormas yang lain yang melakukan hal yang sama.
Selamat merenung !
*(Demikian mereka menamakan diri mereka, dan bangga dengan penamaan tersebut. Kami sebatas menukil dari mereka untuk memudahkan identifikasi semata)
(BUKAN HOAX) SEMUA MEDSOS DAN WEBSITE RESMI SYEKH SHALIH AL FAUZAN DIHAPUS
Karena penasaran, kami mencoba untuk mengakses website resmi syekh Shalih Al Fauzan, yaitu ; www.alfawzan.af.org.sa (versi arab) dan www.alfawzan.net (versi bahasa Indonesia). Hasilnya, kedua situs tersebut tidak ditemukan atau tidak bisa diakses (suspended). Dan ini terjadi juga di semua platform media sosial beliau (Twitter atau X, Youtube, dan Facebook). (lihat screenshot terlampir). Setahu kami, penghapusan ini mulai per bulan April 2026.
Dan ini yang kami tahu. Kalau ada website atau medsos resmi beliau yang lain dan masih aktif, kami tidak tahu. Bisa kiranya memberikan faidah kepada kami. Yang bisa diakses, tinggal situs yang tidak resmi (buatan orang lain dan tidak dapat ijin resmi dari syekh). Wallahu a'lam.
Di komunitas atau kelompok Salafi atau Wahabi (demikian mereka menamakan diri mereka dan bangga dengan penamaan itu), seorang murid mentandzir (menyesatkan) dan memboikot ustadz atau gurunya sendiri hanya karena berbeda pendapat dalam masalah yang masuk ranah ijtihadiyyah, merupakan hal yang biasa terjadi. Bahkan di banyak kesempatan merasa bangga karena telah mengamalkan ilmunya dalam “bab sikap tegas terhadap ahli bidah”. Setelah itu, jadwal kajiannya dihentikan tanpa kompromi. Dan pemberitahuannya hanya lewat sms atau wa. Para murid tersebut ada yang sudah berstatus ustadz, dan ada yang masih santri atau jama’ah pengajian. Korban tahdzir ini banyak dan terus bertambah dari waktu ke waktu. Fenomena ini bukan hoax, juga bukan fitnah, tapi fakta.
Ustadz-ustadz yang saat ini ditahdzir oleh murid-murid mereka, dulunya juga suka mentahdzir ustadz-ustadz lain yang berbeda pendapat dengannya. Kemudian, murid-murid yang suka mentahdzir guru-gurunya ini, akhirnya juga ditahdzir oleh murid-muridnya. Terus berantai tahdzir-mentahdzir di kalangan mereka sebagai hukuman dari Allah Azza wa Jallla. Ingat ! Al jaza’ min jinsil ‘amal (balasan akan sesuai dengan jenis perbuatan yang dilakukan). Jika di intern mereka saja saling tahdzir seperti ini, bahkan pada level murid kepada gurunya sendiri, bisa dibayangkan bagaimana interaksi mereka terhadap kaum muslimin di luar kelompok mereka ? Tentunya lebih keras lagi.
Guru-gurunya mendoktrin murid-muridnya dengan penerapan tahdzir yang salah, akhirnya doktrin itu digunakan oleh murid-muridnya sendiri kepada guru-guru mereka yang mengajarkan doktrin tersebut. Kata pepatah ; “Guru kencing berdiri, murid kecing lari”. Asal benda, lansung ditahdzir. Fenomena ini terjadi di intern mereka sendiri dengan seluruh faksi atau variannya, yang nyaris tidak mungkin atau sulit terjadi ke kelompok atau komunitas lain. Bagaimana mungkin orang-orang yang mengklaim mengikuti manhaj Salaf paling murni sedunia memiliki perangai seperti ini ? Salaf mana yang mengajari keburukkan semacam ini ? Mari merenung, muhasabah, dan berbenah selagi masih ada waktu.
Wassalam. (Abdullah Al Jirani)
Note ; Saya tidak mengatakan “semuanya” dan tidak menggunakan diksi “hanya”.
Maksud hati ingin lebih ilmiah dari para fuqaha mazhab, ada daya tidak mampu. Mungkin dikiranya melakukan istinbath dan ijtihad fiqh itu mudah, siapapun bisa melakukannya. Tidak tahunya sangat sulit, bahkan mustahil bagi orang awam seperti kita. Tidak usah buat (mazhab) fiqh dalil, karena mazhab fiqh yang empat (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi'iyyah dan Hanabilah) itu sudah dibangun di atas dalil dengan pemahaman para ahli ijtihad.
Abdullah Al-Jirani Official
SEBUTKAN SANAD KALIAN
Dengan adanya sanad (transmisi) keilmuan, maka agama kita terjaga dari berbagai pemahaman sesat atau penyimpangan. Mata rantai para guru yang bersambung kepada para imam-imam mujtahidin (ahli ijtihad), lalu kepada para tabi’in dan tabi’ut tabi’in, lalu kepada para sahabat, hingga berujung kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan sanad, orang tidak akan bisa berbicara seenaknya. Hal-hal yang bukan bagian dari agama, atau yang bersumber dari pemahaman sendiri, akan mudah terdeteksi.
Imam Ibnul Mubarak rahimahullah berkata ;
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
“Sanad (transmisi ilmu) itu bagian dari agama. Maka kalau bukan karena sanad, sungguh setiap orang akan berbicara apa yang dia inginkan.” (Muqaddimah Shahih Muslim)
Jangan sembarang mengambil ilmu agama. Teliti dulu sanad keilmuannya, apakah bersambung keilmuannya sampai para ulama Ahli Sunah hingga mengerucut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau tidak ? Sebab, taruhannya adalah agama kita. Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah berkata ;
« إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ ».
“Ilmu ini adalah agama. Maka, telitilah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”(Muqaddimah Shahih Muslim)
Bertanya tentang sanad, bukan untuk sok-sokan, bukan juga untuk gagah-gagahan. Tapi semata untuk langkah preventif dan ketenangan kita dalam beragama. Apalagi di masa-masa sekarang ini yang begitu merebak berbagai pemahaman menyimpang dan orang-orang yang mengklaim (secara dusta) sebagai pengikut Salaf.
Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah juga menyatakan ;
« لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ ».
“Sebelumnya, mereka tidak bertanya tentang sanad. Tapi tatkala terjadi fitnah, mereka berkata ; “Sebutlah para rawi (sanad) kalian kepada kami ! Maka telitilah, jika dia Ahlus Sunah ambilah hadisnya. Jika dia Ahli bidah, jangan diambil hadisnya.” (Muqaddimah Shahih Muslim)
Alhamdulillah, kita konsisten untuk terus menghidupkan sunah para ulama dengan menjaga tradisi sanad keilmuan yang bersambung kepada para ulama Nusantara, lalu kepada para imam-imam ahli ijtihad, lalu kepada para sahabat dan bermuara kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
27 Juni 2026
Ujung pulau Jawa Tengah di perbatasan Jawa Timur
1 day ago | [YT] | 50
View 25 replies
Abdullah Al-Jirani Official
MUHAMMADIYAH MULAI BERSIH-BERSIH
Doktor Sholihul Huda, Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim, menghadirkan buku terbarunya yang berjudul “Darurat Salafisme di Muhammadiyah” pada momentum yang sangat krusial dalam dinamika gerakan Islam kontemporer di Indonesia.
Penulis menyajikan buku ini sebagai suara kritis yang berupaya menjaga kemurnian identitas ideologis Muhammadiyah sebagai gerakan Islam Berkemajuan.
Kehadiran karya ini mendahului kekhawatiran publik mengenai kuatnya arus puritanisme serta penetrasi ideologi transnasional ke dalam organisasi Islam moderat.
Organisasi ini secara konsisten menunjukkan komitmen tinggi terhadap kemajuan sosial dan intelektual umat.
Namun, penulis menyoroti fenomena beberapa tahun terakhir yang menunjukkan infiltrasi cara berpikir Salafisme ke dalam ruang-ruang dakwah Muhammadiyah.
Pola pikir tersebut cenderung tekstualis, kaku, serta eksklusif sehingga berpotensi mengikis karakter dasar Muhammadiyah.
Kegelisahan terhadap pergeseran paradigma inilah yang menjadi fondasi utama bagi penulis untuk menyusun seluruh isi buku ini.
Sholihul Huda tidak sedang memprovokasi pembaca untuk membenci kelompok tertentu melalui tulisan ini.
Sebaliknya, ia mendorong warga Persyarikatan agar lebih menyadari adanya pergeseran cara pandang keagamaan yang perlahan dapat merusak karakter moderat Muhammadiyah.
Oleh karena itu, kader Muhammadiyah, aktivis dakwah, hingga akademisi perlu menjadikan buku ini sebagai rujukan literasi yang sangat penting.
Link ; pwmu.co/menjaga-nalar-berkemajuan-di-tengah-arus-s…
2 weeks ago | [YT] | 82
View 9 replies
Abdullah Al-Jirani Official
Di antara faksi-faksi Salafi (atau Wahabi) di tempat saya (dan besar kemungkinan di tempat lain juga demikian), mereka kalau ketemu tidak saling tegur sapa dan tidak saling mengucapkan salam. Masing-masing saling mentahdzir (menyesatkan), merasa paling benar dan mengklaim sebagai Salafi yang paling murni sedunia. Sementara yang lainnya, divonis sebagai Salafi KW (hanya ngaku-ngaku Salafi). “Terhadap ahli bidah harus bersikap keras”, kata mereka. Yang dimaksud “ahli bidah” di situ adalah Salafi yang dianggap KW.
Padahal, jargon-jargonnya sama, referensi kitab-kitabnya sama, ulama-ulama yang jadi rujukan juga sama. Kok bisa terjadi seperti ini ? Apa masalahnya ? Pasti ada yang salah. Ini menjadi PR bagi mereka untuk mencari titik masalahnya, lalu segera melakukan pembenahan. Sebenarnya kalau sekedar berbeda pendapat dalam masalah furu’iyyah khilafiyyah tapi saling menghormati, nggak jadi masalah. Tapi ini beda, sudah saling menyesatkan ! Sudah jumlahnya sedikit (sekali), kondisinya seperti ini. Tragis.
Sekedar saran ; Fokus ke kelompok sendiri saja dulu. Jangan malah sibuk mengurusi kelompok lain sampai melupakan borok diri sendiri. Sebab, ini merupakan kerusakan yang sangat serius. Jika tidak segera diobati, akan semakin parah dan berdampak buruk tidak hanya kepada kelompok mereka sendiri, tapi juga kepada umat Islam secara umum.
Coba bayangkan, jika di intern mereka saja terjadi seperti ini dan sikap mereka sekeras ini, (hampir) dipastikan terhadap umat Islam yang di luar kelompok mereka tentu akan lebih keras lagi. Mulai dengan tahdzir (menyesatkan), lalu tabdi’ (mengahlibidahkan), dan akhirnya takfir (mengkafirkan). Wallahul musta’an.
Yuk, berbenah.
2 weeks ago (edited) | [YT] | 50
View 5 replies
Abdullah Al-Jirani Official
Pelajarannya : Jangan mudah menghakimi umat Muslim dengan syirik, bidah, dan sesat. Nanti menyesal. Tanggungjawabnya di akhiratpun berat.
3 weeks ago | [YT] | 79
View 19 replies
Abdullah Al-Jirani Official
Kadang, kita perlu rekreasi untuk mengistirahatkan jiwa. Jangan terlalu serius terus, nanti malah patah. Kata Hujjatul Islam imam Al Gazali rhm : "Jiwa manusia tidak akan selalu betah berada di atas kebenaran(ketaatan) secara terus-menerus jika tidak diistirahatkan. Memaksanya untuk terus-menerus berada dalam kondisi berat, justru akan memicu kejenuhan (futur)."(Ihya' Ulumuddin : 2/239)
Pantai Jodo, Batang -Semarang
8 April 2026
4 weeks ago | [YT] | 85
View 4 replies
Abdullah Al-Jirani Official
Karakter komunitas dakwah dan jamaah pengajian, sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara ustadznya mengajarkan ilmu. Maka ada pepatah : "Guru kencing bediri, murid kencing lari." Kalau ustadznya keras, intoleran, dan suka menyesatkan serta mengakfir-kafurkan umat Islam, hampir dipastikan muridnya lebih ganas lagi
1 month ago | [YT] | 70
View 14 replies
Abdullah Al-Jirani Official
MUHAMMADIYAH SESAT ?
Jika setiap interaksi dengan orang lain yang dianggap memiliki penyimpangan atau bahkan kekafiran selalu otomatis menyebabkan pelakunya sesat atau kafir atau minimalnya dianggap menoleransi kesesatan atau kekafiran, maka apakah ormas Muhammadiyah yang secara resmi menerima kunjungan duta besar Iran (Mohammad Boroujerdi) dengan baik dan ramah, lalu menyepakati untuk melawan segala bentuk kezaliman dan penindasan juga otomatis sesat dan jadi Syi’ah atau kafir ?
Bagi (kebanyakkan) teman-teman Salafi atau Wahabi*, akan menjawab ; “ya”. Ini jika mereka konsisten menerapakan doktrin dan pemahaman mereka yang ghuluw (ekstrim) selama ini. Bagi mereka, mujalasah (duduk-duduk) dan berinteraksi dengan ahli bidah termasuk Syi’ah, sekalipun dalam kebaikan yang disepakati, merupakan bentuk wala’ (loyalitas) kepada Syi’ah dan pembenaran kepada penyimpangannya. Dan ini terlarang keras di dalam manhaj Salaf (versi mereka). Kata mereka, kepada ahli bidah (termasuk Syi’ah), sikapnya harus keras dan tegas tanpa basa-basi secara mutlak. Bahkan sebagian mereka sampai terang-terangan menghakimi Syi’ah bukan Islam (kafir) secara mutlak tanpa ada perincian sedikitpun.
Kita tunggu saja penyesatan atau pengkafiran mereka (Wahabi) secara resmi kepada ormas Muhammadiyah plus semua jajaran pengurus serta anggotanya. Atau setidaknya hujatan, hinaan, serta caci makian mereka, sebagaimana mereka telah melakukan hal ini kepada person dan ormas yang lain yang melakukan hal yang sama.
Selamat merenung !
*(Demikian mereka menamakan diri mereka, dan bangga dengan penamaan tersebut. Kami sebatas menukil dari mereka untuk memudahkan identifikasi semata)
2 months ago | [YT] | 52
View 39 replies
Abdullah Al-Jirani Official
(BUKAN HOAX) SEMUA MEDSOS DAN WEBSITE RESMI SYEKH SHALIH AL FAUZAN DIHAPUS
Karena penasaran, kami mencoba untuk mengakses website resmi syekh Shalih Al Fauzan, yaitu ; www.alfawzan.af.org.sa (versi arab) dan www.alfawzan.net (versi bahasa Indonesia). Hasilnya, kedua situs tersebut tidak ditemukan atau tidak bisa diakses (suspended). Dan ini terjadi juga di semua platform media sosial beliau (Twitter atau X, Youtube, dan Facebook). (lihat screenshot terlampir). Setahu kami, penghapusan ini mulai per bulan April 2026.
Dan ini yang kami tahu. Kalau ada website atau medsos resmi beliau yang lain dan masih aktif, kami tidak tahu. Bisa kiranya memberikan faidah kepada kami. Yang bisa diakses, tinggal situs yang tidak resmi (buatan orang lain dan tidak dapat ijin resmi dari syekh). Wallahu a'lam.
2 months ago | [YT] | 26
View 3 replies
Abdullah Al-Jirani Official
Di komunitas atau kelompok Salafi atau Wahabi (demikian mereka menamakan diri mereka dan bangga dengan penamaan itu), seorang murid mentandzir (menyesatkan) dan memboikot ustadz atau gurunya sendiri hanya karena berbeda pendapat dalam masalah yang masuk ranah ijtihadiyyah, merupakan hal yang biasa terjadi. Bahkan di banyak kesempatan merasa bangga karena telah mengamalkan ilmunya dalam “bab sikap tegas terhadap ahli bidah”. Setelah itu, jadwal kajiannya dihentikan tanpa kompromi. Dan pemberitahuannya hanya lewat sms atau wa. Para murid tersebut ada yang sudah berstatus ustadz, dan ada yang masih santri atau jama’ah pengajian. Korban tahdzir ini banyak dan terus bertambah dari waktu ke waktu. Fenomena ini bukan hoax, juga bukan fitnah, tapi fakta.
Ustadz-ustadz yang saat ini ditahdzir oleh murid-murid mereka, dulunya juga suka mentahdzir ustadz-ustadz lain yang berbeda pendapat dengannya. Kemudian, murid-murid yang suka mentahdzir guru-gurunya ini, akhirnya juga ditahdzir oleh murid-muridnya. Terus berantai tahdzir-mentahdzir di kalangan mereka sebagai hukuman dari Allah Azza wa Jallla. Ingat ! Al jaza’ min jinsil ‘amal (balasan akan sesuai dengan jenis perbuatan yang dilakukan). Jika di intern mereka saja saling tahdzir seperti ini, bahkan pada level murid kepada gurunya sendiri, bisa dibayangkan bagaimana interaksi mereka terhadap kaum muslimin di luar kelompok mereka ? Tentunya lebih keras lagi.
Guru-gurunya mendoktrin murid-muridnya dengan penerapan tahdzir yang salah, akhirnya doktrin itu digunakan oleh murid-muridnya sendiri kepada guru-guru mereka yang mengajarkan doktrin tersebut. Kata pepatah ; “Guru kencing berdiri, murid kecing lari”. Asal benda, lansung ditahdzir. Fenomena ini terjadi di intern mereka sendiri dengan seluruh faksi atau variannya, yang nyaris tidak mungkin atau sulit terjadi ke kelompok atau komunitas lain. Bagaimana mungkin orang-orang yang mengklaim mengikuti manhaj Salaf paling murni sedunia memiliki perangai seperti ini ? Salaf mana yang mengajari keburukkan semacam ini ? Mari merenung, muhasabah, dan berbenah selagi masih ada waktu.
Wassalam.
(Abdullah Al Jirani)
Note ; Saya tidak mengatakan “semuanya” dan tidak menggunakan diksi “hanya”.
2 months ago | [YT] | 71
View 15 replies
Abdullah Al-Jirani Official
Maksud hati ingin lebih ilmiah dari para fuqaha mazhab, ada daya tidak mampu. Mungkin dikiranya melakukan istinbath dan ijtihad fiqh itu mudah, siapapun bisa melakukannya. Tidak tahunya sangat sulit, bahkan mustahil bagi orang awam seperti kita. Tidak usah buat (mazhab) fiqh dalil, karena mazhab fiqh yang empat (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi'iyyah dan Hanabilah) itu sudah dibangun di atas dalil dengan pemahaman para ahli ijtihad.
2 months ago | [YT] | 60
View 3 replies
Load more