Di channel ini saya akan berusaha membagikan ilmu yang selama ini saya dapatkan, semoga bisa bermanfaat untuk para netizen di mana pun Anda berada. InsyaAllah saya akan sering berbagi tips & trik seputar jualan online, bisnis online maupun offline. Oh iya, teman-teman juga boleh request "tema", kira-kira ingin saya buatkan video tentang apa, silahkan tulis saja di kolom komentar ya. Selama tema tersebut masih saya kuasai atau masih passion saya, InsyaAllah saya akan berusaha menyajikaannya untuk Anda.

Untuk kerja sama/bisnis silahkan DM di akun Instagram saya @sunarko.se

Sedikit tentang saya,
Saya memiliki usaha toko koper di Bali dan beberapa bisnis, di antaranya ;

1. Sobat Entrepreneur (IG : @sobatentrepreneur.id)

2. Sogol Farm Indonesia (IG : @sogolfarm)

3. Eranet (IG : @eranet.official)


Sunarko

Breaking News
Lagu karya saya yang berjudul "Aku Rapopo (Tatag)" akan rilis serempak di seluruh platform digital musik pada tanggal 09 April 2026. Semoga lagu "Aku Rapopo (Tatag) bisa memberikan spirit bagi mereka yang mungkin saat ini sedang patah hati. Ditinggalkan pasangan bukanlah akhir dari segalanya, kelak suatu hari nanti semua orang yang kita sayangi pasti akan meninggalkan kita 🙂

#AkuRapopo #Tatag #SakadiPunika #LaguJawa #PopJawa #musik

youtube.com/shorts/UiU6jOZhv0...

3 months ago (edited) | [YT] | 1

Sunarko

Single ke-2 dari D'MADAZ yang berjudul "Gadis Tak Bernasab" bukan sekadar tembang rock biasa; ini adalah sebuah potret nyata yang sering terjadi di sekitar kita.


Lagu ini bercerita tentang dia—sosok mungil yang hadir di tengah badai. Ia lahir ke dunia tanpa nama ayah di belakang namanya, sebuah konsekuensi pahit dari satu malam yang salah arah di masa seragam putih abu-abu.


Lagu ini dibuka dengan lengkingan gitar elektrik yang berat, seolah mewakili jeritan batin yang terbungkam. Ritme drum yang menghentak cepat membawa kita ke sebuah lorong sekolah yang dingin, di mana bisik-bisik menjadi lebih tajam daripada bel masuk.


Vokal yang serak dan penuh tenaga dalam lagu ini menggambarkan pergulatan batin sang ibu muda. Di satu sisi, ada rasa malu yang menghimpit, namun di sisi lain, ada naluri pelindung yang luar biasa. Liriknya menegaskan bahwa sang bayi tidak punya pilihan saat dilahirkan, dan ia tidak sepantasnya memikul beban dosa yang bukan miliknya.


Melalui nuansa rock yang anthemic, lagu ini bukan sekadar ratapan, melainkan sebuah pernyataan sikap. Ini adalah tentang keberanian untuk berdiri tegak di tengah penghakiman dunia, menjadi benteng bagi sang "Gadis Tak Bernasab," dan membuktikan bahwa setiap nyawa yang lahir memiliki hak untuk dicintai tanpa syarat.


Seiring berkembangnya teknologi, lagu ini juga sebagai nasihat untuk para orang tua agar selalu memperhatikan putra-putrinya, jangan sampai mereka terjerumus pergaulan bebas!


#musik #rock #GadisTakBernasab


youtube.com/shorts/pwpHYfdqqU...

4 months ago (edited) | [YT] | 1

Sunarko

Lagu "Seandainya" dari D'MADAZ bukan sekadar tembang rock biasa; ini adalah sebuah potret nyata tentang ketegaran di tengah reruntuhan hubungan. Dengan balutan distorsi gitar yang kasar namun emosional khas era 90-an, lagu ini membawa kita masuk ke dalam ruang batin seorang orang tua tunggal (single parent).


Di Balik Distorsi "Seandainya"

Bayangkan suatu sore di sebuah ruang tamu yang sepi, di mana suara tawa anak kecil menjadi satu-satunya pelipur lara di atas tumpukan tagihan dan kenangan pahit.


"Seandainya" adalah sebuah mesin waktu. D'MADAZ membawa kita kembali ke era emas rock 90-an, era di mana lirik jujur bertemu dengan raungan gitar yang mengiris hati. Namun, narasi yang mereka angkat sangatlah personal dan relevan: perjuangan seorang single parent.


Lagu ini bercerita tentang momen transisi yang menyakitkan. Saat kata "kita" harus berubah menjadi "aku", dan saat seseorang harus menjadi pahlawan sendirian bagi buah hatinya setelah badai perpisahan melanda.


Mengapa Lagu Ini Terasa Begitu "Dalam"?

• Vokal yang Mentah: Sang vokalis menyalurkan rasa frustrasi sekaligus harapan melalui tarikan suara yang powerful, mengingatkan kita pada kejayaan musik grunge atau slow rock dekade 90-an.


• Lirik yang "Bicara": Bukan sekadar kata-kata puitis, tapi cerminan dari pengandaian yang sering muncul di kepala: "Seandainya semua tak harus berakhir begini."


• Energi yang Membebaskan: Meski bertema sedih, balutan musik rock memberikan kesan bahwa menjadi single parent bukanlah tentang kekalahan, melainkan tentang kekuatan untuk terus berdiri.


"Lagu ini didedikasikan untuk mereka yang tetap memilih berjuang meski separuh jiwanya telah pergi. Untuk mereka yang menjadi ayah sekaligus ibu dalam satu waktu."


"Seandainya" bukan hanya untuk didengarkan, tapi untuk dirasakan. Bagi kamu yang sedang berjuang sendirian, ingatlah bahwa kamu tidak benar-benar sendiri.


#musik #rock #seandainya


https://youtu.be/ZOduZmWVZXc?si=HCTjo...

4 months ago | [YT] | 1

Sunarko

Halo semuanya, selamat datang di Komunitas YouTube baru saya! Sekarang Anda juga bisa memposting di channel saya. Untuk memulai, tulis postingan tentang apa yang ingin Anda lihat berikutnya di channel saya.
Kunjungi Komunitas saya: youtube.com/@SunarkoSE/community

5 months ago | [YT] | 0

Sunarko

Dalam jual beli, meminta atau memberikan nota kosong = membudayakan korupsi 🙏

#jualbeli #jualan #belanja #stopbudayakorupsi

youtube.com/shorts/qNl1s5AwjD...

5 months ago | [YT] | 0

Sunarko

Apakah Anda sudah menonton film pendek yang berjudul "Menaklukkan Ras Terkuat di Bumi?"

youtube.com/shorts/801WCpoa7T...

6 months ago (edited) | [YT] | 0

Sunarko

Perang "Luxora": Satu Nama, Dua Ego

Di sebuah kawasan industri kreatif yang prestisius, berdirilah dua butik tas yang letaknya hanya berseberangan jalan. Keduanya memiliki desain interior yang serupa: minimalis, mewah, dan dipenuhi lampu sorot yang mengarah ke produk andalan mereka.

Masalahnya bukan hanya lokasinya, tapi papan nama besar di atas pintu mereka. Keduanya tertulis: LUXORA.

Pak Hadi adalah pengrajin kulit senior yang sudah merintis merek "Luxora" (singkatan dari Luxury of Nusantara) sejak lima tahun lalu di garasi rumahnya. Baginya, Luxora adalah dedikasi pada kulit sapi lokal berkualitas tinggi.

Sementara itu, Adrian, seorang lulusan sekolah desain luar negeri yang baru saja pulang, meluncurkan merek "Luxora" (singkatan dari Luxe Aurora) sebulan yang lalu. Baginya, Luxora adalah masa depan tas high-end dengan gaya Parisian.

Keributan pecah saat seorang pelanggan penting salah masuk butik. Ia ingin komplain soal jahitan tas yang ia beli di Adrian, tapi malah memarahi staf Pak Hadi.

Pak Hadi yang tidak terima reputasinya tercoreng, keluar dari butiknya dengan membawa tas kulit buaya andalannya. Di saat yang sama, Adrian keluar dengan membawa tas berbahan vegan-leather futuristiknya.

"Mas Adrian! Kamu ini tidak punya kamus nama ya?" seru Pak Hadi di trotoar. "Nama Luxora itu sudah saya pakai sejak anak saya masih SD! Ganti nama tokomu!"

Adrian melipat tangan di dada, tersenyum tipis. "Pak Hadi, zaman sudah berubah. Saya sudah mendaftarkan nama ini di platform digital dan punya pengikut ribuan. Secara estetika, font saya lebih modern. Bapaklah yang harus ganti nama supaya tidak dianggap ketinggalan zaman."

"Ketinggalan zaman katamu?" Pak Hadi mengangkat tasnya tinggi-tinggi. "Ini kulit asli! Baunya aroma kerja keras. Tasmu itu bau plastik pabrik, merusak nama Luxora saya yang eksklusif!"

Pertengkaran itu menjadi tontonan warga. Mereka berdua mulai membandingkan produk masing-masing di depan publik.
Pak Hadi memamerkan kekuatan jahitan tangan.

Adrian memamerkan fungsionalitas digital (tas dengan pengisi daya nirkabel).
Keributan ini hampir berakhir di meja hijau, sampai akhirnya seorang kurir paket datang membawa surat dari kantor hukum. Ternyata, ada pihak ketiga—sebuah perusahaan raksasa dari luar negeri—yang melayangkan somasi kepada keduanya karena nama "Luxora" ternyata sudah dipatenkan secara internasional oleh merek kosmetik global.

Menghadapi musuh yang lebih besar, Pak Hadi dan Adrian terdiam. Ego mereka mendadak luntur. Di sebuah kafe di sudut jalan, dua rival ini akhirnya duduk satu meja.
"Jadi, kita berdua sama-sama ilegal?" tanya Adrian lesu. Pak Hadi terkekeh pahit. "Ternyata kita rebutan tulang yang sudah ada pemiliknya, Mas."

Bukannya bermusuhan, mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan rebranding. Pak Hadi mengubah namanya menjadi "Hadi Leathercraft" untuk menonjolkan sisi personalnya, sementara Adrian memilih nama "Neo-Aurora".

Bahkan, mereka memulai kolaborasi unik: tas dengan ketahanan kulit asli milik Pak Hadi, namun dengan sentuhan desain modern dan fitur canggih dari Adrian. Ternyata, melepaskan sebuah merek demi sebuah kualitas jauh lebih menguntungkan daripada meributkan nama yang sama.

Setelah menyadari bahwa nama "Luxora" adalah milik raksasa kosmetik dunia, Pak Hadi dan Adrian tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Mereka memutuskan untuk mengurus legalitas dengan sangat serius.

Setelah sepakat untuk berdamai, mereka bertemu dengan seorang konsultan Hukum dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Di sanalah mereka baru menyadari bahwa membangun merek bukan sekadar soal membuat logo yang bagus, tapi soal "keamanan" di mata hukum.

Sebelum mendaftarkan nama "Hadi Leathercraft" dan "Neo-Aurora", mereka melakukan pengecekan mendalam di pangkalan data Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Pak Hadi sempat khawatir nama "Hadi" terlalu umum. Konsultan menyarankan untuk menambahkan elemen unik agar memiliki daya pembeda (distinctiveness) yang kuat.
Adrian harus memastikan "Neo-Aurora" tidak menyerupai nama merek tas lain di kelas barang yang sama (Kelas 18: Tas, dompet, dan barang-barang kulit).

Mereka belajar bahwa pendaftaran merek dibagi berdasarkan kelas. Mereka tidak hanya mendaftar di Kelas 18 (untuk produk tas), tetapi juga di Kelas 35 (untuk jasa toko ritel dan pemasaran). Ini penting agar tidak ada orang lain yang membuka toko dengan nama yang sama meskipun menjual barang yang berbeda sedikit.

Adrian membantu Pak Hadi mendaftarkan mereknya secara online. Mereka harus melewati beberapa tahap, di antaranya;
• Pemeriksaan Formalitas:
Pengecekan kelengkapan data administratif.
• Masa Pengumuman (Publikasi):
Selama 2 bulan, merek mereka dipajang di Berita Resmi Merek. Ini adalah masa paling mendebarkan, karena jika ada orang lain yang merasa keberatan, mereka bisa mengajukan oposisi.
• Pemeriksaan Substantif:
Pejabat pemeriksa merek melakukan analisis apakah merek mereka melanggar aturan atau memiliki kemiripan dengan merek yang sudah ada.

Sembilan bulan kemudian, dua lembar sertifikat dengan hologram resmi negara akhirnya terbit. Pak Hadi membingkai sertifikat "Hadi Leathercraft" miliknya di dinding utama butik.

"Dulu saya pikir cukup dengan 'yang penting laku'," ujar Pak Hadi sambil menepuk bahu Adrian. "Sekarang, saya bisa tidur nyenyak karena usaha saya punya 'akta kelahiran' yang sah."

Adrian pun merasa lebih percaya diri. Dengan nama "Neo-Aurora" yang sudah dipatenkan, ia mulai berani mengekspor produknya ke Singapura tanpa takut dicekal masalah hak cipta.

Keributan yang awalnya karena emosi, berakhir menjadi pelajaran profesional.

Mereka kini paham bahwa di dunia bisnis:
• Cek sebelum cetak: Jangan buat branding sebelum cek HKI!
• Unik itu aman: Semakin unik nama merek, semakin mudah dipatenkan.
• Investasi hukum: Biaya pendaftaran merek jauh lebih murah daripada biaya denda atau biaya ganti semua papan nama toko.

6 months ago | [YT] | 0

Sunarko

Film pendek karya saya 🙏

youtube.com/shorts/6S63GjbZNh...

7 months ago | [YT] | 1