Channel ini ada untuk meluruskan ajaran salah bahkan sesat yang berkembang dalam kekristenan


Ferdi Johannis

Video ini dibuat bukan untuk menyerang Elia Myron secara pribadi. Saya menghormati setiap orang sebagai sesama manusia yang memiliki martabat dan hak untuk menyampaikan pandangannya.

Namun demikian, ketika sebuah ajaran atau pernyataan disampaikan ke ruang publik (Medsos) terlebih menyangkut isu teologis yang penting maka wajar jika hal tersebut diuji, dikaji, dan ditanggapi secara terbuka. Fokus utama video ini adalah isi ajaran, bukan pribadi yang menyampaikan.

Tujuan saya sederhana: meluruskan pemahaman, menguji argumen secara rasional dan biblika, serta mengajak kita semua untuk berpikir lebih jernih dan kritis.

Kiranya video ini bisa menjadi kontribusi positif bagi siapa pun yang rindu memahami kebenaran dengan lebih mendalam.

4 days ago | [YT] | 0

Ferdi Johannis

Dondy Tan mencoba membangun narasi bahwa ajaran Paulus berbeda dari Yesus, sehingga orang Kristen sebenarnya lebih mengikuti Paulus daripada Kristus sendiri. Karena konsep keselamatan dan konsep Allah dalam Taurat maupun ajaran Yesus adalah cukup bertobat saja (tanpa harus ada penebusan dosa) dan Allah dalam Taurat itu Esa mutlak. Ini membuktikan bahwa sebenarnya ajaran taurat dan Yesus sama dengan ajaran agamanya yang sekarang. Sedangkan apa yang dianut kekristenan sekarang bukan ajaran Yesus melainkan Paulus.

Benarkah demikian?

Dalam video ini saya akan bongkar: apakah ajaran Paulus benar bertentangan dengan Yesus? apakah konsep keselamatan dan konsep tentang Allah Dalam Perjanjian Lama dan apa yang diajarkan Yesus berbeda dengan yang diajarkan Paulus? dan apakah ayat-ayat yang dipakai Dondy Tan benar-benar mendukung kesimpulannya? Apakah konsep keselamatan dan konsep tentang Allah dalam Taurat dan ajaran Yesus sendiri selaras dengan ajaran agama dondy Tan yang sekarang?

Tonton penjelasan dalam video ini agar saudara dapat memahami apa saja kesalahan dari pernyataan Dondy Tan.

1 week ago (edited) | [YT] | 0

Ferdi Johannis

Saya membuat video ini bukan untuk menyerang pribadi Elia Myron, bukan juga untuk membenci atau merendahkannya. Fokus saya adalah menguji ajaran dan pernyataan yang disampaikan secara publik di media sosial, karena setiap pengajaran rohani harus diuji berdasarkan logika, konteks, dan kebenaran Alkitab.

Dalam video ini saya menanggapi pernyataannya bahwa manusia masuk neraka bukan karena tidak percaya kepada Yesus, melainkan semata-mata karena dosanya sendiri. Sekilas terdengar benar, tetapi pertanyaannya: bagaimana Alkitab menjelaskan hubungan antara dosa, penolakan terhadap Kristus, dan penghukuman? Apakah ketidakpercayaan kepada Kristus hanyalah “tambahan”, atau justru bagian inti dari pemberontakan manusia terhadap Allah?

Silakan simak videonya sampai selesai, dan uji setiap argumen dengan pikiran terbuka serta dengan Alkitab.

2 weeks ago (edited) | [YT] | 0

Ferdi Johannis

Dondy Tan mengatakan bahwa Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu plin-plan dan tidak konsisten. Tuduhan ini sekilas terdengar meyakinkan, tetapi apakah benar demikian? Dalam video ini, saya menanggapi langsung pernyataan tersebut dan mengujinya secara serius.

3 weeks ago (edited) | [YT] | 1

Ferdi Johannis

Video ini dibuat bukan untuk menyerang
Pdt. Marcel Saerang secara pribadi. Saya menghormati setiap orang sebagai sesama manusia yang memiliki martabat dan hak untuk menyampaikan pandangannya.

Namun demikian, ketika sebuah ajaran atau pernyataan disampaikan ke ruang publik (Medsos) terlebih menyangkut isu teologis yang penting maka wajar jika hal tersebut diuji, dikaji, dan ditanggapi secara terbuka. Fokus utama video ini adalah isi ajaran, bukan pribadi yang menyampaikan.

Tujuan saya sederhana: meluruskan pemahaman, menguji argumen secara rasional dan biblika, serta mengajak kita semua untuk berpikir lebih jernih dan kritis.

Kiranya video ini bisa menjadi kontribusi positif bagi siapa pun yang rindu memahami kebenaran dengan lebih mendalam.

4 weeks ago (edited) | [YT] | 2

Ferdi Johannis

Video ini dibuat bukan untuk menyerang Pdt. Johny Kilapong secara pribadi. Saya menghormati setiap orang sebagai sesama manusia yang memiliki martabat dan hak untuk menyampaikan pandangannya.

Namun demikian, ketika sebuah ajaran atau pernyataan disampaikan ke ruang publik (Medsos) terlebih menyangkut isu teologis yang penting maka wajar jika hal tersebut diuji, dikaji, dan ditanggapi secara terbuka. Fokus utama video ini adalah isi ajaran, bukan pribadi yang menyampaikan.

Tujuan saya sederhana: meluruskan pemahaman, menguji argumen secara rasional dan biblika, serta mengajak kita semua untuk berpikir lebih jernih dan kritis.

Kiranya video ini bisa menjadi kontribusi positif bagi siapa pun yang rindu memahami kebenaran dengan lebih mendalam.

1 month ago (edited) | [YT] | 2

Ferdi Johannis

Menurut iman Kristen, Yesus itu siapa?

3 months ago | [YT] | 5

Ferdi Johannis

Bayangkan seorang asing turun ke kota kita setiap bulan Desember, lalu bertanya polos, “Ini kota Kristen ya?” Kita akan menjawab dengan yakin, “Tentu.” Lalu ia melihat sekeliling.

Di jalan-jalan berdiri patung pria berjanggut putih bertopi merah. Lampu kelap-kelip membingkai wajahnya. Spanduk besar terbentang: "Selamat merayakan Natal" dengan figur pria berjanggut putih bertopi merah sedang memikul hadiah. Pusat perbelanjaan penuh poster senyumnya. Musik yang diputar bercerita tentang rusa, salju, hadiah, dan cerobong asap bukan tentang palungan, bukan tentang salib.

Orang asing itu mengangguk pelan dan berkata, “Oh… jadi ini perayaan kedatangan Santa Claus.” Dan kita… tidak punya bantahan yang kuat.

Natal datang, tetapi yang paling sibuk dipersiapkan bukan kabar kelahiran Sang Juruselamat, melainkan jadwal Santa: Santa jam berapa tiba, Santa masuk dari pintu mana, Santa nanti duduk di mana untuk foto.

Bahkan di rumah-rumah orang Kristen, anak-anak tidak bertanya, “Yesus lahir untuk apa?” Mereka bertanya,“Santa datang jam berapa?”, “Hadiahnya apa?”, “Santa tahu aku anak baik atau tidak?”

Yesus lahir di palungan
Santa datang dengan hadiah.

Yesus membawa keselamatan
Santa membawa kejutan.

Yesus menuntut pertobatan
Santa cukup menuntut perilaku baik sementara.

Yang lebih ironis, fenomena ini tidak berhenti di luar gereja. Masuk ke dalam dan suasananya tetap sama.

Ornamen Santa menggantung manis. Topi merah muncul di kepala pelayan. Di banyak gereja, Yesus tetap disebut. Liturgi tetap berjalan. Khotbah tetap dibacakan. Tidak ada yang secara terbuka berkata, “Yesus kita geser dulu.”

Tetapi masalahnya bukan pada apakah Yesus disebut, melainkan seberapa besar ruang yang Ia dapatkan di tengah hiruk-pikuk Natal.

Drama Natal tetap menceritakan kelahiran Kristus, tetapi sering kali dibungkus begitu rapih, begitu aman, begitu ringan hingga tajamnya kabar itu nyaris tak terasa. Palungan ditampilkan indah, tetapi tanpa bau kandang. Bayi Yesus dipuja, tetapi tanpa bayangan salib. Natal dirayakan dengan sukacita, tetapi inkarnasi Kristus kerap dipresentasikan tanpa bobot klaim-Nya, Ia hanya diterima sebagai simbol damai, bukan sebagai Raja yang mengubah arah hidup manusia.

Sementara itu, di luar panggung liturgi, narasi lain berjalan jauh lebih agresif. Santa hadir bukan sebagai simbol kecil, melainkan sebagai ikon dominan. Ia muncul di dekorasi, poster, iklan, hadiah, dan imajinasi anak-anak berulang, konsisten, dan masif.

Gereja memang tidak berkata, “Jangan terlalu serius tentang Yesus.”Namun dunia di sekitar gereja berkata sangat lantang, “Yang penting Natal itu menyenangkan.”

Dan tanpa disadari, gereja sering kali memilih beradaptasi daripada berkonfrontasi. Bukan dengan menyangkal Kristus, tetapi dengan membiarkan makna-Nya tenggelam di antara kemeriahan yang tak pernah Ia minta.

Akibatnya aneh tapi nyata:
Yesus tetap hadir secara teologis,
tetapi Santa hadir secara kultural.

Yesus dipahami lewat kata-kata,
Santa diingat lewat pengalaman.

Yesus diajarkan di kelas,
Santa dirayakan di keseharian.

Dan bagi anak-anak, mereka belajar bukan dari doktrin, tetapi dari apa yang paling sering diulang. Tokoh yang paling hidup bukanlah sosok yang tepat, melainkan yang paling dirayakan.

Natal pun berubah. Bukan lagi peristiwa ilahi yang mengguncang sejarah manusia, melainkan festival tahunan penuh dekorasi, diskon, dan nostalgia.

Yesus menjadi latar belakang.
Santa menjadi tokoh utama.

Yesus muncul sekilas di mimbar.
Santa menetap di ingatan.

Bagi anak-anak, ini bukan salah mereka. Mereka hanya merespons apa yang paling sering mereka lihat, dengar, dan rayakan. Jika yang ditonjolkan adalah Santa, maka Santa lah yang akan mereka kenal. Jika yang dirindukan adalah hadiah, maka hadiah lah makna Natal.

Lalu suatu hari, kita heran sendiri:
“Kenapa generasi ini tidak lagi mengenal Kristus?”

Padahal jawabannya sederhana dan pahit: Karena sejak kecil, mereka lebih sering diperkenalkan kepada Santa.

Natal pun akhirnya tampak seperti ini:
Yesus tokoh sejarah rohani yang penting, Santa bintang utama perayaan.

Ironisnya, kita masih menyebutnya "Natal", Padahal jika dilihat dari isinya, suasananya, dan fokusnya, ini lebih mirip "Hari Raya Kedatangan Santa Claus", dengan Yesus sebagai catatan kaki kecil di bawahnya.

Dan mungkin, satir paling tajam dari semua ini adalah: Kita tidak pernah secara resmi menyingkirkan Kristus dari Natal, kita hanya membuat-Nya kalah populer.

Selamat menyambut kedatangan Santa Claus.

5 months ago | [YT] | 16

Ferdi Johannis

Besok jam 5 sore WIB, jam 6 sore WITA, jam 7 malam WIT

6 months ago | [YT] | 2